THETIMESNEWS.id |Medan – Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, membagikan pengalaman dan inspirasi tentang kepemimpinan, ketangguhan, serta semangat kolaborasi saat menjadi pembicara dalam sesi motivational speech pada ajang Youth City Changers (YCC) yang menjadi pembuka rangkaian Rapat Kerja Nasional (Rakernas) APEKSI XVIII di Le Polonia Hotel, Medan, Minggu (28/6/2026).
Mengusung tema “Orang Muda Tangguh untuk Indonesia”, kegiatan tersebut mempertemukan ratusan delegasi muda dari 70 kota di Indonesia sebagai ruang bertukar gagasan, inovasi, dan kepemimpinan untuk menjawab berbagai tantangan pembangunan perkotaan di masa depan.
Dalam sesi talkshow, Illiza tampil bersama Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiharto dan Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas. Hadir pula Wakil Wali Kota Medan Zakiyudin Harahap, Wakil Wali Kota Banda Aceh Afdhal Khalilullah, Direktur APEKSI Alwis Rustam, jajaran Pemerintah Kota Medan, serta para delegasi muda dari berbagai daerah.
Di hadapan peserta, Illiza mengisahkan perjalanan Banda Aceh yang bangkit dari salah satu bencana terbesar dalam sejarah dunia. Menurutnya, pengalaman menghadapi tsunami menjadi pelajaran berharga tentang arti ketangguhan, kolaborasi, dan pentingnya menyiapkan generasi muda menghadapi tantangan masa depan.
"Saya mengajak kita semua melihat perjalanan Banda Aceh, sebuah perjalanan dari tragedi, menuju ketangguhan, dan kini menuju masa depan yang dibangun bersama generasi muda," ujar Illiza.
Ia mengenang bagaimana dalam hitungan menit tsunami mengubah wajah Banda Aceh. Puluhan ribu warga meninggal dunia, ribuan rumah hancur, dan infrastruktur kota lumpuh. Hampir setiap keluarga, katanya, memiliki kisah kehilangan.
Namun dari tragedi tersebut, Banda Aceh belajar bahwa kebangkitan hanya dapat diwujudkan melalui kolaborasi berbagai pihak.
"Seluruh dunia turut membantu proses tanggap darurat, rehabilitasi hingga rekonstruksi. Dari pengalaman itulah kami belajar bahwa ketangguhan tidak dibangun oleh satu pihak. Ketangguhan lahir ketika pemerintah, masyarakat, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan mitra internasional bekerja bersama. Hingga hari ini, semangat itulah yang terus kami bawa dalam pembangunan Banda Aceh," ungkapnya.
Illiza juga menyoroti pengalaman Aceh menghadapi bencana banjir besar pada akhir 2025 yang melanda 18 kabupaten dan kota. Meski Banda Aceh tidak menjadi daerah yang paling terdampak, aktivitas masyarakat tetap terganggu akibat terhambatnya distribusi logistik dan dampak terhadap infrastruktur regional.
Setelah memastikan kondisi Banda Aceh tetap terkendali, Pemerintah Kota Banda Aceh menginisiasi gerakan #BandaAcehPeduli untuk membantu daerah-daerah terdampak.
Melalui gerakan tersebut, Banda Aceh menyalurkan berbagai bentuk bantuan, mulai dari logistik, layanan kesehatan, ambulans, trauma healing, dukungan pendidikan, hingga bantuan pemulihan infrastruktur dasar.
Pada kesempatan itu, Illiza juga mengapresiasi solidaritas antarkota yang ditunjukkan keluarga besar APEKSI, di mana sejumlah pemerintah kota turut memberikan bantuan bagi masyarakat Aceh saat menghadapi bencana.
Menurutnya, makna ketangguhan tidak hanya sebatas membangun kembali bangunan yang rusak akibat bencana, tetapi juga membangun karakter masyarakat yang peduli dan saling menguatkan.
"Ketangguhan bukan hanya tentang membangun kembali bangunan yang hancur. Ketangguhan adalah membangun manusia yang peduli, membangun masyarakat yang saling menjaga, dan membangun generasi muda yang siap menghadapi masa depan," tegasnya.
Sebagai bentuk motivasi bagi para peserta, Illiza turut menyerahkan buku karyanya berjudul "Jejak Langkah Illiza di Tengah Banjir Sumatera" kepada seluruh delegasi muda yang mengikuti kegiatan.
Melalui forum Youth City Changers, Illiza berharap semakin banyak generasi muda yang terlibat aktif dalam pembangunan kota, memiliki jiwa kepemimpinan, serta mampu menjadi agen perubahan yang tangguh, adaptif, dan kolaboratif dalam mewujudkan Indonesia yang lebih maju.


Komentar via Facebook