Times News – Tidak semua perjalanan menuju Tanah Suci dimulai dengan kebahagiaan. Sebagian diantaranya lahir dari luka, kehilangan, bahkan air mata yang belum sempat benar-benar kering. Kisah itulah yang tergambar dari sosok Hartati Musirun Mukmin, seorang perempuan asal Aceh yang tetap menapaki jalan menuju Baitullah meski rumahnya luluh lantak diterjang banjir bandang.
Di balik pakaian ihram dan doa-doa yang dipanjatkan di Tanah Haram, tersimpan cerita pilu tentang kehilangan. Rumah warisan orang tua yang selama ini menjadi tempat berteduh, kini tertutup material banjir dan longsor. Tingginya bahkan mencapai leher orang dewasa. Harta benda hilang, dokumen penting lenyap, dan harapan sempat terasa runtuh bersama derasnya arus bencana.
Namun di tengah kepedihan itu, Hartati tidak kehilangan satu hal paling berharga: keyakinan.
Tangisnya pecah ketika mengenang bagaimana musibah datang begitu cepat, tanpa memberi kesempatan untuk menyelamatkan apa pun. KTP, kartu keluarga, hingga dokumen haji ikut hilang diterjang banjir. Dalam keadaan serba sulit, bahkan untuk memperbaiki rumah saja ia mengaku tidak memiliki biaya.
Tetapi Allah memiliki cara-Nya sendiri menghadirkan pertolongan.
Di saat keadaan terasa gelap, ketiga anaknya hadir sebagai cahaya. Dengan penuh bakti, mereka bergotong royong mengumpulkan biaya agar sang ibu tetap dapat melaksanakan ibadah haji—sebuah cita-cita yang telah lama diperjuangkan bersama mendiang suaminya, Muhammad Sofyan, sebelum wafat pada tahun 2014.
Hartati bukan hanya seorang ibu yang kehilangan rumah. Ia adalah gambaran keteguhan seorang perempuan yang tetap berdiri setelah badai kehidupan menghantam. Ditinggal suami, membesarkan anak-anak seorang diri, hingga diuji dengan musibah banjir, semua dijalaninya dengan kesabaran yang luar biasa.
Kini, di usia 56 tahun, Hartati berdiri di Tanah Suci. Menunggu hari wukuf di Padang Arafah, menengadahkan tangan kepada Sang Pencipta, memohon ampunan dan keberkahan. Di tengah segala kehilangan duniawi, ia masih menyimpan keyakinan bahwa Allah telah menyiapkan rezeki terbaik untuknya.
Kisah Hartati mengajarkan bahwa tidak semua kehilangan adalah akhir. Kadang, dari reruntuhan rumah, Allah justru membukakan pintu menuju rumah-Nya. Dari air mata yang jatuh, tumbuh doa-doa yang menguatkan. Dan dari kesedihan yang mendalam, lahir keyakinan bahwa pertolongan Tuhan selalu datang pada waktunya.
Perjalanan Hartati ke Tanah Suci bukan sekadar kisah seorang jemaah haji. Ini adalah potret keteguhan hati, cinta anak kepada ibu, dan bukti bahwa panggilan Allah tidak pernah salah alamat.
Di tengah dunia yang sering dipenuhi kabar duka, kisah Hartati menjadi pengingat bahwa harapan masih hidup—bahkan setelah banjir merenggut hampir segalanya.


Komentar via Facebook