THETIMESNEWS.id |ACEH TENGAH – Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah bersama berbagai pemangku kepentingan resmi memulai pembentukan Kebun Induk Kopi Arabika Gayo sebagai langkah strategis dalam menjaga keberlanjutan komoditas unggulan nasional sekaligus memperkuat daya saing di pasar ekspor internasional.
Program tersebut ditandai dengan kegiatan diseminasi bertajuk "Pembentukan Kebun Induk Kopi Arabika Gayo sebagai Fondasi Ketahanan Ekologis dan Ekonomi di Hulu DAS Meurebo" yang diselenggarakan oleh Lembaga Ikatan Pemuda Gayo Antara (LIPGA) bekerja sama dengan Kelompok Tani Hutan (KTH) Gayo Forest Natural Park di kawasan hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Meurebo, Sabtu (27/6/2026).
Sekretaris Daerah Kabupaten Aceh Tengah, Ir. Mursyid, menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam mendukung pembangunan kebun induk sebagai upaya menjaga keberlanjutan dan kedaulatan Kopi Arabika Gayo.
"Kita harus mampu memenuhi permintaan pasar dunia. Namun yang lebih penting adalah memastikan generasi muda tetap terlibat dalam menjaga kawasan hulu. Jangan sampai Kopi Arabika Gayo justru dikuasai pihak luar karena kita tertinggal dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kebun induk ini menjadi benteng kedaulatan kopi Gayo," ujarnya.
Ketua Koperasi Baburayan, Riduan Husen, menyampaikan bahwa pembangunan kebun induk merupakan kebutuhan mendesak untuk menghasilkan benih unggul yang mampu memenuhi standar ekspor internasional, khususnya pasar Uni Eropa.
Menurutnya, tantangan utama yang dihadapi saat ini adalah pemenuhan standar residu glifosat di bawah ambang batas yang ditetapkan serta kepatuhan terhadap ketentuan European Union Deforestation Regulation (EUDR) sebagai syarat produk memasuki pasar Eropa.
"Kami berharap pemerintah memperkuat riset, inovasi, dan pendampingan kepada petani agar Kopi Arabika Gayo mampu memenuhi standar internasional sekaligus mempertahankan daya saingnya," katanya.
Sementara itu, penggiat sejarah kopi Gayo, Zulfikar Ahmad, mengungkapkan bahwa berdasarkan catatan sejarah, produktivitas Kopi Arabika Gayo pada masa kolonial Belanda pernah mencapai 2,7 ton per hektare. Namun, produktivitas tersebut terus mengalami penurunan akibat berbagai faktor, termasuk perubahan iklim dan degradasi lingkungan.
Ia menilai pelestarian plasma nutfah melalui pembangunan kebun induk menjadi langkah penting untuk menjaga kualitas genetik Kopi Arabika Gayo agar tetap lestari bagi generasi mendatang.
"Kebun induk merupakan investasi jangka panjang dalam menjaga kualitas dan keberlanjutan Kopi Arabika Gayo," jelasnya.
Ir. Khalid dari Masyarakat Perlindungan Kopi Arabika Gayo menjelaskan bahwa gagasan pembangunan kebun induk sebenarnya telah dirintis sejak 2010. Kebun induk direncanakan dibangun di atas lahan seluas 30 hektare yang berada dalam kawasan Perhutanan Sosial seluas 450 hektare.
Dari total kawasan tersebut, sekitar 200 hektare ditetapkan sebagai zona lindung, sedangkan sisanya merupakan area pengembangan yang tetap memperhatikan fungsi ekologis kawasan.
Dari perspektif lingkungan, Sadra Munawar dari WALHI Aceh mengingatkan bahwa ancaman terhadap keberlanjutan Kopi Arabika Gayo tidak hanya berasal dari perubahan iklim, tetapi juga meningkatnya aktivitas pertambangan di kawasan dataran tinggi Gayo.
"Kelestarian kawasan hulu DAS harus menjadi prioritas. Jika daerah tangkapan air rusak akibat aktivitas tambang, maka masa depan Kopi Arabika Gayo juga akan ikut terancam," tegasnya.
Moderator kegiatan, Zam Zam Mubarak, Tenaga Ahli Kementerian Dalam Negeri pada Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi, menilai pembentukan kebun induk merupakan bagian dari strategi nasional yang mengintegrasikan pengembangan komoditas unggulan, revitalisasi daerah aliran sungai, dan penguatan skema Perhutanan Sosial.
"Program ini bukan sekadar pembangunan kebun kopi, tetapi merupakan bagian dari strategi nasional untuk menjaga ketahanan ekonomi, melestarikan lingkungan, dan memastikan keberlangsungan Kopi Arabika Gayo sebagai salah satu komoditas unggulan Indonesia di pasar dunia," pungkasnya.


Komentar via Facebook