REDAKSI - Aceh sepertinya sedang diuji dalam siklus penderitaan yang tak kunjung usai. Belum kering air mata akibat harta benda yang hanyut disapu banjir, kini rakyat Tanah Rencong dipaksa berhadapan dengan "hantu" baru yang lebih dingin dan tak berperasaan: Sistem Desil.
Jika banjir adalah musibah alam yang tak terelakkan, maka kekacauan data desil adalah musibah buatan manusia (man-made disaster) yang lahir dari ketumpulan empati dan carut-marutnya birokrasi.
Paradoks Data di Balik Meja
Sangat ironis melihat bagaimana sebuah angka di layar komputer bisa menentukan hidup mati seorang warga di pelosok Aceh. Banyak warga yang secara kasat mata hidup di bawah garis kemiskinan, namun secara administratif "dipaksa" menjadi kaya karena masuk ke dalam kategori Desil menengah ke atas.
Akibatnya fatal. Hak-hak dasar mereka seperti, pelayanan kesehatan, Hilangnya hak atas PKH atau bantuan pangan, anak-anak berprestasi dari keluarga miskin yang gagal mendapat beasiswa hanya karena "angka desil" yang salah.
Saat Statistik Menindas Realitas
Banjir telah menghancurkan aset fisik warga—sawah, ternak, dan rumah
Namun, sistem desil yang tidak akurat menghancurkan harapan. Bagaimana mungkin sebuah sistem yang tujuannya "mengentaskan kemiskinan" justru menjadi alat untuk "menghapus orang miskin" dari daftar penerima manfaat tanpa mengubah nasib mereka di dunia nyata?
Ini bukan sekadar masalah teknis input data. Ini adalah masalah keadilan sosial. Ketika validasi di lapangan hanya menjadi formalitas dan protes warga dianggap angin lalu, maka negara sedang melakukan pengabaian massal terhadap rakyatnya sendiri.
Mendesak Nurani Pengambil Kebijakan
Pemerintah Aceh dan instansi terkait tidak boleh hanya berpangku tangan dan menyalahkan sistem pusat. Perlu ada keberanian untuk: ?Melakukan "Jemput Bola": Validasi ulang dengan melibatkan perangkat Gampong yang jujur.
Jangan biarkan warga menunggu berbulan-bulan untuk perbaikan data sementara perut mereka lapar hari ini.
Prioritas Pasca-Bencana: Warga terdampak banjir seharusnya mendapatkan dispensasi atau peninjauan ulang status desil secara otomatis karena kehilangan aset ekonomi.
"Data mungkin bisa berbohong, tapi perut yang lapar tidak bisa menunggu sinkronisasi server."
Sudah saatnya birokrasi belajar dari filosofi rakyat Aceh: Meunyoe han jeuet tatulông, bek tapu rugoe (Jika tidak bisa menolong, janganlah merugikan). Jangan sampai rakyat yang sudah tenggelam oleh banjir, kini terkubur hidup-hidup oleh tumpukan data desil yang keliru.


Komentar via Facebook