THETIMESNEWS.ID | Kuliner - Aceh tidak hanya dikenal dengan kekayaan sejarah, adat istiadat yang kuat, dan keindahan alamnya yang memukau. Provinsi yang berada di ujung utara Pulau Sumatera ini juga menyimpan warisan kuliner yang kaya akan filosofi. Salah satu mahakarya kuliner yang paling ikonik dan sarat akan nilai sejarah adalah Keumamah.
Bagi masyarakat Aceh, keumamah bukan sekadar lauk pendamping nasi hangat. Makanan tradisional berbahan dasar ikan ini adalah simbol ketahanan, heroisme, dan adaptasi masyarakat Aceh terhadap kondisi alam serta sejarah perjuangan masa lalu.
Mengenal Keumamah: Mengapa Disebut "Ikan Kayu"?
Secara fisik, keumamah memiliki tekstur yang sangat unik. Di luar wilayah Aceh, kuliner ini lebih populer dengan sebutan Ikan Kayu. Penamaan ini bukan tanpa alasan; proses pengolahan tradisional yang panjang membuat tekstur ikan menjadi sangat keras, padat, dan kecokelatan menyerupai sepotong kayu.
Bahan baku utama keumamah adalah ikan tongkol, ikan cakalang, atau ikan tuna. Proses pembuatannya membutuhkan ketelatenan dan memanfaatkan kearifan lokal dalam pengawetan makanan, yang meliputi beberapa tahapan penting:
- Pembersihan dan Perebusan: Ikan segar dibersihkan, dibuang bagian jeroannya, kemudian direbus dalam kuali besar bersama garam dan asam sunti (belimbing wuluh yang telah dikeringkan).
- Pengasapan: Setelah direbus, ikan ditiriskan dan diasapi di atas bara api selama beberapa jam untuk mengurangi kadar air secara signifikan.
- Penjemuran: Tahap akhir adalah menjemur ikan di bawah terik matahari hingga benar-benar kering dan mengeras.
Karena kadar airnya yang sangat minim setelah melalui proses pengeringan sempurna, keumamah memiliki keunggulan yang luar biasa: dapat bertahan hingga berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, tanpa menggunakan bahan pengawet kimia dan tanpa perlu disimpan di dalam lemari es.
Ransum Perang Para Pejuang Tanah Rencong
Sifat keumamah yang tahan lama menjadikannya bagian penting dalam lembaran sejarah perjuangan rakyat Aceh. Pada masa Perang Aceh melawan kolonialisme Belanda (akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20), para pejuang gerilya Aceh harus keluar-masuk hutan belantara dan tinggal di persembunyian dalam waktu yang lama.
Dalam kondisi perang yang serba terbatas, logistik menjadi faktor penentu kemenangan. Keumamah tampil sebagai pahlawan pangan. Para pejuang membawa bongkahan ikan kayu ini di dalam tas perbekalan mereka. Karena teksturnya yang keras, keumamah tidak mudah busuk meskipun terkena kelembapan udara hutan.
Ketika waktu makan tiba, para pejuang cukup mengiris tipis ikan kayu tersebut untuk langsung dikonsumsi, atau mengolahnya secara sederhana dengan bahan-bahan yang bisa ditemukan di hutan. Keumamah memberikan asupan protein tinggi yang dibutuhkan para pejuang untuk mempertahankan stamina di medan laga. Oleh karena itu, bagi masyarakat Aceh, keumamah adalah kuliner yang dihormati karena memuat memori kolektif tentang heroisme dan semangat pantang menyerah.
Evolusi Rasa: Dari Bekal Darurat Menjadi Hidangan Mewah
Meskipun lahir dari situasi darurat perang, keumamah di era modern telah berevolusi menjadi hidangan yang sangat digemari oleh semua kalangan, mulai dari warung makan pinggir jalan hingga restoran bintang lima.
Sebelum dimasak, ikan kayu yang keras tersebut harus diserut tipis-tipis atau disuwir-suwir terlebih dahulu setelah direndam air panas agar teksturnya melunak. Hidangan keumamah yang paling populer digulai dengan racikan bumbu khas Aceh yang kaya rempah.
Eksplorasi Rasa Khas Keumamah: Menu yang paling legendaris adalah Gulai Keumamah atau Keumamah Tumis. Masakan ini menggunakan perpaduan bumbu halus dari bawang merah, bawang putih, cabai rawit, kunyit, dan jahe. Namun, kunci kelezatan utama yang memberikan rasa autentik Aceh adalah penggunaan asam sunti (belimbing wuluh yang dikeringkan dan diasinkan) serta daun kari (daun teumeurui). Hasil akhirnya adalah perpaduan rasa gurihnya ikan, pedas yang menggigit, dan sensasi asam segar yang aromatik.
Selain diolah menjadi gulai basah, keumamah juga sering dimasak kering menyerupai abon pedas atau sambal goreng. Variasi kering ini sangat cocok dijadikan oleh-oleh atau bekal perjalanan bagi masyarakat Aceh yang merantau ke luar daerah atau luar negeri.
Pelestarian Budaya Melalui Kuliner
Di tengah gempuran kuliner modern dan makanan cepat saji, keumamah tetap memiliki tempat spesial di hati masyarakat Aceh. Hidangan ini tidak pernah absen dalam perayaan-perayaan besar adat, seperti kenduri perkawinan, pesta adat, hingga hidangan khusus pada bulan suci Ramadan dan Hari Raya Idulfitri.
Menyajikan keumamah kepada tamu luar daerah bukan sekadar menjamu dengan makanan, melainkan cara masyarakat Aceh menceritakan jati diri, sejarah, dan ketangguhan leluhur mereka. Di era modern ini, keumamah juga telah dikemas secara kreatif dalam bentuk kaleng atau kemasan vakum siap saji, memudahkan kuliner legendaris ini untuk menembus pasar internasional dan dinikmati oleh pencinta kuliner di seluruh dunia.
Keumamah adalah bukti nyata bagaimana sebuah kebutuhan bertahan hidup di masa lalu dapat menjelma menjadi warisan budaya yang tak ternilai harganya. Menikmati sepiring keumamah hangat bukan hanya memanjakan lidah dengan kekayaan rempah Nusantara, melainkan juga merawat ingatan akan sebuah sejarah besar dari Bumi Serambi Mekkah.


Komentar via Facebook