Oleh : Teuku Muhammad Jamil Pengamat Politik dan Akademisi Universitas Syiah Kuala Senior Lecture pada Sekolah Pascasarjana (SPs) USK, Aceh
OPINI - Tidak ada hari yang lebih membahagiakan bagi seorang pejabat selain hari ketika namanya diumumkan sebagai penerima amanah. Sejak saat itu telepon berdering tanpa henti. Pesan WhatsApp membanjiri layar telepon genggam. Karangan bunga memenuhi halaman kantor. Spanduk ucapan selamat terbentang di berbagai sudut kota. Media massa memuat berita pelantikan. Mereka yang selama ini terasa jauh mendadak menjadi begitu dekat. Semua seolah ikut bergembira.
Pemandangan seperti ini hampir selalu terjadi, mulai dari kepala desa, camat, bupati, wali kota, gubernur, rektor, dekan, direktur, kepala dinas, hingga berbagai pejabat struktural lainnya.
Momentum pelantikan memang menghadirkan kebahagiaan. Namun, justru pada saat itulah ujian kepemimpinan yang sesungguhnya dimulai.
Sayangnya, tidak semua ucapan selamat lahir dari ketulusan. Sebagian memang tulus mendoakan keberhasilan seorang pemimpin. Namun sebagian lainnya datang membawa agenda yang tersembunyi. Ada yang berharap proyek. Ada yang mengincar jabatan. Ada yang menunggu promosi. Ada yang menawarkan loyalitas semu. Bahkan ada pula yang sekadar ingin memperoleh "penghasilan" dari kedekatannya dengan pusat kekuasaan.
Mereka datang bukan untuk memperkuat institusi, tetapi untuk memperkuat posisi mereka sendiri.
Dalam ilmu sosiologi, tindakan seperti ini dapat dipahami melalui teori tindakan sosial . Weber menjelaskan bahwa tindakan manusia tidak selalu didorong oleh nilai-nilai moral, melainkan sering kali oleh rasionalitas instrumental, yakni tindakan yang diperhitungkan berdasarkan untung-rugi pribadi. Dalam konteks kekuasaan, kedekatan dengan pejabat sering dipandang sebagai investasi yang kelak menghasilkan keuntungan politik, ekonomi, ataupun sosial.
Fenomena tersebut juga dapat dibaca melalui teori modal sosial . Relasi dengan penguasa diperlakukan sebagai modal yang dapat ditukar menjadi jabatan, akses, pengaruh, bahkan keuntungan ekonomi. Kedekatan bukan lagi menjadi ruang pengabdian, melainkan instrumen transaksi.
Karena itu, tidak mengherankan apabila setiap pergantian pejabat selalu diikuti oleh perpindahan kesetiaan sejumlah orang.
*Hari ini mereka memuji pemimpin baru.* Besok mereka memuji penggantinya. Lusa mereka mengaku sejak awal berada di pihak yang menang.
Kesetiaan mereka bukan kepada institusi. Bukan pula kepada rakyat. Melainkan kepada kursi yang sedang diduduki.
Saya menyebut kelompok seperti ini sebagai musafir jabatan. Mereka adalah para pengembara kekuasaan. Ke mana arah angin bertiup, ke sanalah mereka berlayar.
Ke mana matahari kekuasaan bersinar, di sanalah mereka berdiri. Mereka tidak mempunyai rumah pengabdian. Rumah mereka adalah kepentingan. Ironisnya, musafir jabatan hampir selalu hadir lebih dahulu daripada para profesional yang benar-benar bekerja.
Mereka sangat piawai membaca psikologi pemimpin baru. Mereka tahu bahwa setiap orang yang baru memperoleh jabatan membutuhkan penerimaan sosial.
Karena itu mereka menawarkan pujian. Padahal pujian sering kali merupakan pintu masuk menuju pengaruh.
Di sinilah teori kekuasaan simbolik Pierre Bourdieu menemukan relevansinya. Kekuasaan tidak selalu dipertahankan melalui paksaan, tetapi sering dipengaruhi oleh simbol, penghormatan, pengakuan, dan legitimasi semu. Pujian yang terus-menerus dapat menciptakan ilusi bahwa seorang pemimpin selalu benar, hingga akhirnya kehilangan kemampuan mendengar suara yang berbeda.
Lebih jauh, pernah mengingatkan bahwa seorang penguasa lebih sering dijatuhkan oleh orang-orang di sekelilingnya daripada oleh musuh yang berada di luar istana. Sejarah politik di berbagai negara menunjukkan bahwa keruntuhan kepemimpinan sering kali diawali oleh lingkaran dalam yang hanya pandai mengatakan "siap" dan "setuju", tetapi miskin keberanian untuk mengatakan, "Maaf, keputusan ini keliru."
Di dalam birokrasi, keadaan ini melahirkan apa yang oleh para ilmuwan organisasi disebut sebagai groupthink, yaitu situasi ketika seluruh anggota kelompok lebih memilih menjaga kenyamanan pemimpin daripada menjaga kualitas keputusan. Akibatnya, kritik menghilang, diskusi mati, inovasi terhambat, dan kesalahan berkembang tanpa koreksi.
Lebih berbahaya lagi adalah hadirnya para pembisik. Mereka tidak selalu memiliki jabatan. Tidak selalu memiliki kompetensi. Namun mereka berusaha mengendalikan arah keputusan melalui kedekatan pribadi.
Dalam banyak organisasi, pembisik jauh lebih berbahaya daripada lawan yang terbuka. Lawan yang terbuka masih dapat dikenali. Pembisik bekerja dalam diam. Mereka menciptakan jarak antara pemimpin dengan orang-orang yang jujur.
Mereka menyeleksi informasi. Mereka mengatur siapa yang boleh mendekat. Mereka membangun tembok agar hanya suara mereka yang terdengar.
Akibatnya, pemimpin perlahan hidup di dalam ruang gema (echo chamber), yaitu ruang yang hanya memantulkan pendapat yang ingin didengarnya sendiri. Ketika itu terjadi, kepemimpinan sedang menuju titik paling rapuh.
Padahal jabatan adalah amanah publik. Ia bukan hadiah bagi keluarga. Bukan pula hadiah bagi kelompok pendukung. Apalagi hadiah bagi para pemburu rente.
Dalam perspektif administrasi publik, setiap jabatan mengandung prinsip public trust—kepercayaan masyarakat yang wajib dipertanggungjawabkan. Sementara dalam perspektif etika pemerintahan, jabatan merupakan kontrak moral antara pemimpin dengan rakyat. Ketika kontrak itu digadaikan kepada kepentingan kelompok, yang runtuh bukan hanya reputasi seorang pejabat, tetapi juga kepercayaan publik terhadap institusi.
Karena itu, seorang pemimpin yang baru dilantik hendaknya segera menyadari bahwa karangan bunga akan layu.
Spanduk akan diturunkan. Ucapan selamat akan berhenti. Media akan mencari berita baru. Yang akan tinggal hanyalah keputusan-keputusan yang dibuat selama memegang amanah.
Sejarah tidak pernah mengingat berapa ribu papan bunga yang berdiri di depan kantor seorang pejabat. Sejarah hanya mencatat apakah ia menghadirkan keadilan.
Apakah ia menjaga integritas. Apakah ia berani menolak titipan. Apakah ia memimpin dengan akal sehat dan hati nurani. Maka, janganlah terlalu lama menikmati euforia pelantikan.
Nikmatilah saat-saat ketika masyarakat mulai merasakan manfaat dari kebijakan yang Saudara lahirkan. Sebab ukuran keberhasilan seorang pemimpin bukanlah panjangnya daftar tamu yang datang memberi ucapan selamat. Melainkan banyaknya rakyat yang tetap mendoakannya ketika masa jabatannya telah berakhir.
Sebab jabatan sesungguhnya bukan tentang seberapa tinggi kursi yang diduduki. Tetapi tentang seberapa rendah hati seseorang ketika berada di atasnya. Dan ingatlah, tidak semua yang datang sambil tersenyum adalah sahabat.
Tidak semua yang memuji adalah pendukung. Tidak semua yang mengaku setia adalah pengabdi. *Sebagian hanyalah musafir jabatan yang singgah sebentar, lalu pergi mencari matahari kekuasaan berikutnya.*
Pelantikan hanya berlangsung beberapa menit. Namun pertanggungjawaban atas jabatan akan berlangsung sepanjang sejarah, di hadapan rakyat, dan di hadapan Tuhan.


Komentar via Facebook