Kapal Misi Kemanusiaan ke Gaza Dicegat Israel, GPCI Nyatakan Siaga 1 untuk Relawan

Avatar photo

Mirza Putra

19 Mei 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Kapal Misi Kemanusiaan ke Gaza Dicegat Israel, GPCI Nyatakan Siaga 1 untuk Relawan

THETIMESNEWS.ID | JAKARTA – Global Peace Convoi Indonesia (GPCI) menyatakan kondisi “Siaga 1” menyusul tindakan Angkatan Laut Israel yang mulai mencegat kapal-kapal kemanusiaan internasional yang tengah berlayar menuju Gaza melalui Laut Mediterania.

Informasi tersebut disampaikan dalam konferensi pers di Media Crisis Center GPCI yang berlokasi di Sasana Budaya Dompet Dhuafa, Jakarta, pada Senin sore. Misi kemanusiaan itu melibatkan puluhan kapal yang membawa sekitar 450 relawan dari berbagai negara untuk menyalurkan bantuan sekaligus menyuarakan dukungan terhadap kemerdekaan dan perdamaian Palestina.

Koordinator Dewan Pengarah GPCI, Maimon Herawati, mengecam tindakan militer Israel yang dinilai menghalangi misi kemanusiaan internasional di perairan internasional.

“Militer Zionis secara terang-terangan memotong laju kapal yang berlayar menuju Gaza. Sekitar pukul 14.00 WIB, Kapal Tabariyya (Cactus) dilaporkan telah mengalami interception. Kondisi ini dapat dikategorikan sebagai Siaga 1 bagi para relawan Global Sumud Flotilla,” ujar Maimon.

Menurut GPCI, hingga berita ini ditulis, sebanyak 11 dari total 61 kapal dilaporkan telah dibajak atau dicegat di laut internasional. Sementara satu kapal lain, yakni Kapal Joseph yang membawa delegasi Indonesia, diduga turut mengalami penyergapan.

Anggota Dewan Pengarah GPCI, Irvan Nugraha, menilai tindakan Israel merupakan pelanggaran terhadap hukum humaniter internasional.

“Pencegatan terhadap kapal kemanusiaan menjadi ancaman serius bagi seluruh relawan yang sedang menjalankan misi kemanusiaan menuju Gaza,” kata Irvan.

Delegasi Indonesia dalam misi tersebut terdiri dari sejumlah organisasi kemanusiaan dan media nasional, di antaranya Dompet Dhuafa, Rumah Zakat, Spirit of Aqsa, SMART 171, serta jurnalis dari Republika, iNews, dan Tempo.

GPCI juga mengaku telah menyiapkan langkah kontigensi untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk terhadap delegasi Indonesia apabila terjadi penyergapan atau penahanan oleh militer Israel.

Anggota Dewan Pengarah GPCI, Ahmad Juwaini, mengatakan pihaknya akan segera berkoordinasi dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) dan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di sejumlah negara strategis seperti Yordania, Mesir, dan Turki.

“Kami meminta Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri untuk mengupayakan perlindungan maksimal bagi delegasi Indonesia, termasuk langkah diplomatik apabila terjadi penyergapan maupun penahanan secara paksa,” ujarnya.

Selain langkah diplomatik, GPCI juga memastikan akan memberikan pendampingan penuh kepada keluarga delegasi Indonesia apabila terjadi eskalasi situasi di lapangan.

Command Center Lead GPCI, Jajang Nurjaman, menegaskan keselamatan relawan menjadi prioritas utama organisasi.

“Kami telah menyiapkan jalur koordinasi darurat, dukungan komunikasi, bantuan informasi, hingga layanan pendampingan psikologis bagi keluarga delegasi yang terdampak,” kata Jajang.

GPCI berharap komunitas internasional segera mengambil langkah konkret untuk menghentikan tindakan yang dinilai mengancam keselamatan relawan kemanusiaan dan memperburuk krisis kemanusiaan di Gaza.