Jejak Sejarah alm. dr. Zaini Abdullah: Keteladanan Mahal di Tengah Polarisasi Aceh

Avatar photo

Redaksi

14 Juni 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Jejak Sejarah alm. dr. Zaini Abdullah: Keteladanan Mahal di Tengah Polarisasi Aceh

Oleh: Agus Maulidar

OPINI - Membincangkan sejarah kontemporer Aceh tidak akan pernah lengkap tanpa mengulas perjalanan hidup dr. Zaini Abdullah. Pria yang akrab disapa Abu Doto ini bukan sekadar seorang politisi atau mantan birokrat; ia adalah jembatan hidup yang menghubungkan era pergolakan senjata, masa-masa pengasingan di luar negeri, hingga fajar perdamaian dan otonomi khusus di Bumi Serambi Mekkah. Melalui catatan ini, Aceh Cakrawala Institute (ACI) berupaya membaca kembali bagaimana keteguhan prinsip, intelektualisme medis, dan diplomasi internasional melebur dalam satu napas perjuangan demi harkat hidup rakyat Aceh.

Dilahirkan di Pidie pada tahun 1940, Abu Doto tumbuh dalam atmosfer Aceh yang sarat dengan nilai-nilai keislaman dan semangat keacehan yang kuat. Pilihan hidupnya untuk menempuh pendidikan kedokteran di Universitas Sumatera Utara (USU) hingga lulus pada tahun 1972 menunjukkan bahwa ia adalah bagian dari generasi terdidik awal Aceh pasca-kemerdekaan. Sebagai seorang dokter spesialis kandungan, Abu Doto sejatinya memiliki masa depan yang mapan dan dihormati di masyarakat. Namun, panggilan ideologis mengubah garis takdirnya.

Keputusannya bergabung dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang dideklarasikan oleh Teungku Hasan di Tiro pada tahun 1976 membuktikan bahwa bagi Abu Doto, kenyamanan materiil tidak lebih penting daripada apa yang ia yakini sebagai perjuangan keadilan bagi tanah kelahirannya.

Dalam analisis Aceh Cakrawala Institute (ACI), ketika tekanan militer memojokkan gerakan tersebut, langkah eksodus ke luar negeri menjadi fase krusial yang mendewasakan visi politik Abu Doto. Kehidupan di Swedia menjadi panggung transformasi perannya. Di Stockholm, ia tidak hanya bertahan hidup dengan kembali mempraktikkan ilmu medisnya, tetapi juga bertransformasi menjadi salah satu arsitek utama diplomasi internasional GAM. Kehidupan di luar negeri ini memberikan perspektif baru yang lebih universal.

Berada di jantung Eropa yang demokratis dan menghargai hak asasi manusia membentuk cara pandang Abu Doto bahwa perjuangan Aceh tidak harus selalu diselesaikan di ujung senapan, melainkan bisa diupayakan di atas meja perundingan yang bermartabat. Bersama teman-teman lainnya, ia mengelola jaringan diaspora dan mengetuk pintu-pintu lembaga internasional untuk menyuarakan persoalan Aceh.

Momentum perubahan itu tiba ketika bencana tsunami melanda Aceh pada akhir tahun 2004.Tragedi kemanusiaan global ini memaksa kedua belah pihak yang bertikai untuk menurunkan ego masing-masing. Di sinilah peran diplomasi Abu Doto mencapai puncaknya. Sebagai salah satu tokoh kunci dalam perundingan di Helsinki, Finlandia, yang dimediasi oleh Martti Ahtisaari, Abu Doto menunjukkan kelasnya sebagai negosiator yang tenang namun kokoh.

Penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) Helsinki pada 15 Agustus 2005 adalah legasi terbesar dari generasinya. Peristiwa ini membuktikan bahwa dedikasi puluhan tahun di luar negeri akhirnya berbuah manis:

Perdamaian yang hakiki, di mana senjata dimusnahkan dan Aceh mendapatkan hak otonomi khusus melalui Undang-Undang Pemerintahan Aceh (UUPA).

Transformasi terbesar dalam perjalanan politik Abu Doto terjadi ketika ia memutuskan kembali ke tanah air dan terjun ke dalam sistem alam demokrasi Indonesia. Berpasangan dengan Muzakir Manaf, ia terpilih sebagai Gubernur Aceh periode 2012–2017. Masa jabatan ini adalah ujian nyata baginya. Menjadi pemimpin di masa damai jauh lebih kompleks daripada memimpin gerakan perlawanan. Ia tidak lagi berhadapan dengan strategi militer, melainkan dengan persoalan kemiskinan, pengangguran, dan tuntutan kesejahteraan dari rakyat yang telah lama lelah oleh konflik.

Aceh Cakrawala Institute (ACI) mencatat bahwa selama lima tahun memimpin, kebijakan dan legasi politik Abu Doto sangat berfokus pada penguatan identitas, transformasi ekonomi syariah, dan peningkatan pelayanan dasar yang terukur secara riil dalam beberapa program monumental:

Pembaruan Lanskap Masjid Raya Baiturrahman

Proyek bernilai total sekitar Rp1,1 triliun ini dimulai melalui proses groundbreaking pada tahun 2015. Kebijakan ini berhasil memasang 12 unit payung elektrik raksasa ala Masjid Nabawi Madinah, membangun koridor wudu bawah tanah dengan 288 titik, serta area parkir bawah tanah berkapasitas 254 mobil dan 347 sepeda motor. Transformasi fisik ini diresmikan secara simbolis bersama Wakil Presiden Jusuf Kalla pada Mei 2017 dan sukses mengukuhkan Mesjid Raya Baiturrahman sebagai pusat peradaban Islam sekaligus destinasi wisata religi internasional.

Penguatan Jaminan Kesehatan Aceh (JKA)

Berlandaskan latar belakang medisnya, Abu Doto mengesahkan Peraturan Gubernur (Pergub) Aceh Nomor 11 Tahun 2014 tentang Pedoman Pelaksanaan Jaminan Kesehatan Rakyat Aceh. Langkah ini mengintegrasikan dana Otonomi Khusus (Otsus) untuk membiayai premi kesehatan gratis bagi seluruh warga Aceh. Kebijakan jaminan kesehatan menyeluruh (universal health coverage) berbasis daerah ini dipuji secara nasional sebagai salah satu preseden terbaik jaminan sosial di Indonesia.

Konversi Bank Aceh Menuju Sistem Syariah

Salah satu legasi ekonomi-regulasi krusial di era Abu Doto adalah mengawal transisi penuh PT Bank Aceh dari sistem konvensional menjadi Bank Syariah. Kebijakan radikal ini diambil guna menyelaraskan roda keuangan daerah dengan karakteristik sosiologis Aceh yang menerapkan syariat Islam.

Di samping itu, dalam ranah birokrasi dan regulasi, Abu Doto terus berupaya mengawal implementasi poin-poin MoU Helsinki, termasuk pembentukan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) Aceh sebagai upaya penyembuhan luka masa lalu.

Tentu saja, Aceh Cakrawala Institute (ACI) menilai masa pemerintahannya tidak sepi dari kritik. Dinamika politik lokal, riak hubungan dengan legislatif, serta tantangan dalam mempercepat serapan anggaran demi pembangunan infrastruktur yang sempat menyisakan Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA) menjadi catatan evaluasi tersendiri. Namun, hal itu tidak mengurangi penghormatan publik terhadap integritas personalnya. Abu Doto dikenal sebagai sosok yang relatif bersih dari skandal korupsi besar, sebuah keteladanan yang sangat mahal di tengah lanskap politik kontemporer.

Pada akhirnya, pandangan objektif Aceh Cakrawala Institute (ACI) menempatkan Abu Doto (dr. Zaini Abdullah) sebagai tokoh yang telah menuliskan sebuah epos pribadi yang luar biasa sepanjang hayatnya. Dari seorang dokter yang menyembuhkan fisik manusia, menjadi pejuang yang merawat asa sebuah bangsa di pengasingan, hingga menjadi kepala daerah yang meletakkan fondasi pembangunan pasca-konflik.

Legasinya bukan hanya payung elektrik di Masjid Raya atau kartu kesehatan gratis, melainkan sebuah teladan bahwa jalan panjang menuju kedamaian dan kesejahteraan membutuhkan kesabaran, intelektualisme, dan cinta yang tak kunjung padam pada tanah kelahiran. Aceh akan selalu mengenangnya sebagai salah satu putra terbaik yang mengabdikan seluruh tarikan napasnya demi kejayaan Serambi Mekkah.

Menutup Lembaran catatan perjuangan: Selamat Jalan, Sang Penyembuh dan Pejuang Aceh

Kini, seluruh perjalanan panjang dan berliku itu telah menemui muara akhirnya. Lembaran epos kehidupan dr. Zaini Abdullah telah ditutup dengan paripurna, meninggalkan kita yang hari ini hanya bisa mengenang dan merawat warisannya. Namun, bagi Aceh Cakrawala Institute (ACI), kepergian Abu Doto bukanlah akhir dari gagasan-gagasannya. Beliau berpulang dengan membawa segudang kisah yang merangkum sejarah modern Aceh: dari dinginnya stetoskop di ruang medis, sunyinya malam-malam pengasingan di Swedia, ketegangan di meja runding Helsinki, hingga riuh rendahnya panggung kekuasaan di Pendopo Gubernur.

Abu Doto telah menuntaskan tugasnya di dunia. Legasinya—baik yang mewujud pada megahnya payung elektrik Masjid Raya Baiturrahman, proteksi kesehatan gratis melalui JKA, maupun fondasi ekonomi syariah daerah—adalah prasasti hidup yang akan terus dinikmati oleh generasi Aceh lintas zaman. Beliau telah membuktikan bahwa mencintai tanah kelahiran tidak cukup hanya dengan kata-kata, melainkan dengan menyerahkan seluruh sisa tarikan napas untuk berkhidmat pada rakyat.

Selamat jalan, dr. Zaini Abdullah (Abu Doto). Selamat beristirahat di keabadian, Sang Dokter, Sang Diplomat, dan Sang Pemimpin. Dedikasi dan cinta tulusmu akan selalu hidup dan bersemi di hati setiap insan yang mencintai kedamaian di Bumi Serambi Mekkah.

 

PENULIS adalah Direktur Aceh Cakrawala Institute