IRGC Hujani Kapal Militer AS dengan Rudal, Trump Klaim Balas Hancurkan Armada Iran

Avatar photo

Mirza Putra

08 Mei 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

IRGC Hujani Kapal Militer AS dengan Rudal, Trump Klaim Balas Hancurkan Armada Iran

TIMES News – Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik didih baru pada Jumat (08/05/2026). Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) melancarkan serangan besar-besaran menggunakan kombinasi rudal balistik, rudal jelajah, dan drone peledak ke arah kapal-kapal perusak (destroyer) Amerika Serikat di wilayah Selat Hormuz. Konflik terbuka ini dipicu oleh tuduhan saling klaim terkait pelanggaran gencatan senjata dan serangan terhadap aset sipil.

Juru bicara markas besar militer Khatam al-Anbiya, Ebrahim Zolfaghari, menegaskan bahwa operasi ini merupakan respons defensif. Pihak Iran menuduh Washington terlebih dahulu menyerang kapal tanker minyak mereka yang tengah menuju Selat Hormuz serta menggempur area pemukiman di Iran bagian selatan, termasuk Bandar Khamir dan Pulau Qeshm. Zolfaghari menyatakan bahwa serangan gabungan skala besar tersebut dilakukan di sebelah timur Selat Hormuz dan selatan pelabuhan Chabahar, yang diklaim memberikan kerusakan signifikan pada aset militer musuh.

Laporan dari kantor berita Tasnim dan IRIB menyebutkan bahwa intensitas serangan tersebut memaksa sedikitnya tiga kapal perusak AS mundur dari posisi mereka menuju Laut Oman. Ketegangan ini juga merembet hingga ke ibu kota Teheran, di mana suara tembakan pertahanan udara dilaporkan terus menyalak di area Distrik 22 dan Ahmadabad Mostofi menyusul dua ledakan keras yang menggetarkan wilayah barat kota.

Di pihak lain, Presiden AS Donald Trump memberikan bantahan keras melalui platform Truth Social. Trump justru mengeklaim kemenangan telak dalam kontak senjata tersebut dan menyatakan bahwa tiga kapal perusak kelas dunia milik Amerika berhasil melewati rintangan tanpa kerusakan sedikit pun. Menurut Trump, militer AS telah meluncurkan serangan balik yang menghancurkan total kapal tanker dan armada kecil milik Iran yang terlibat dalam provokasi tersebut.

Hingga saat ini, insiden di jalur pelayaran minyak paling vital di dunia tersebut menyebabkan kekhawatiran global akan stabilitas energi. Selat Hormuz kini berada dalam status waspada tinggi, dengan kedua belah pihak masih menyiagakan armada tempur mereka di posisi strategis sementara komunitas internasional mendesak adanya pengendalian diri guna menghindari perang terbuka.