Oleh: Widia Putri
Suara Anak Muda dalam Demokrasi Hari Ini
OPINI - Indonesia Emas 2045 merupakan cita-cita besar yang terus digaungkan sebagai arah pembangunan bangsa. Dengan bonus demografi, kemajuan teknologi, dan potensi sumber daya manusia yang melimpah, Indonesia diyakini memiliki peluang besar untuk menjadi negara maju. Namun, di tengah berbagai optimisme tersebut, muncul satu pertanyaan yang terus mengusik pikiran banyak generasi muda: benarkah Indonesia sedang bergerak menuju masa keemasan, atau justru sedang berjalan menuju masa depan yang penuh kecemasan?
Pertanyaan ini bukan sekadar bentuk keraguan, melainkan refleksi dari realitas yang mereka lihat dan rasakan dalam kehidupan sehari-hari.
Kecemasan itu bukan tanpa alasan. Dalam beberapa waktu terakhir, masyarakat dihadapkan pada berbagai tantangan ekonomi dan sosial yang cukup berat. Melemahnya nilai tukar rupiah berdampak pada kenaikan harga sejumlah barang, sementara kenaikan harga Pertamax turut menambah beban biaya transportasi dan kebutuhan sehari-hari. Di sisi lain, berbagai kebijakan dan program pemerintah, termasuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG), masih memunculkan perdebatan mengenai efektivitas, pemerataan, dan prioritas anggaran.
Di saat yang sama, kasus korupsi yang terus bermunculan menambah daftar panjang kekecewaan publik. Ketika berbagai persoalan tersebut hadir dalam kehidupan sehari-hari, wajar jika banyak anak muda mulai bertanya: apakah Indonesia benar-benar sedang berada di jalur yang tepat menuju Indonesia Emas?
Saya berpendapat bahwa kegelisahan generasi muda bukanlah bentuk pesimisme, melainkan wujud kepedulian terhadap masa depan bangsa. Anak muda tidak hanya ingin mendengar narasi tentang Indonesia Emas, tetapi juga ingin melihat perubahan yang nyata dalam bidang pendidikan, lapangan pekerjaan, kesejahteraan masyarakat, dan penegakan hukum. Mereka berharap pembangunan tidak hanya terlihat melalui angka-angka statistik, tetapi juga dapat dirasakan langsung oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Di sinilah demokrasi menemukan maknanya. Demokrasi bukan sekadar tentang memilih pemimpin setiap lima tahun sekali, melainkan tentang hadirnya ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi, kritik, dan harapan. Ketika anak muda berani bersuara mengenai berbagai persoalan bangsa, mereka sebenarnya sedang menjalankan peran penting sebagai penjaga demokrasi. Suara mereka bukan ancaman, melainkan pengingat bahwa pembangunan harus tetap berpihak kepada rakyat.
Pada akhirnya, Indonesia Emas atau Indonesia Cemas bukanlah pilihan yang ditentukan oleh masa depan, melainkan oleh keputusan dan tindakan yang diambil hari ini. Jika berbagai persoalan mampu diatasi melalui kebijakan yang tepat, pemerintahan yang responsif, serta partisipasi aktif masyarakat, maka Indonesia Emas dapat menjadi kenyataan. Namun, jika masalah yang dirasakan masyarakat terus diabaikan, korupsi terus berulang, kritik tidak didengar, dan suara anak muda hanya dianggap angin lalu, maka kecemasan yang dirasakan hari ini bisa menjadi kenyataan di masa depan.
Oleh karena itu, mendengar suara generasi muda bukan lagi sebuah pilihan, melainkan sebuah keharusan.
Format ini sudah siap digunakan untuk tugas mata kuliah, artikel opini, maupun dikirim ke media kampus.
Penulis Adalah Mahasiswa Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraa. Universitas : Universitas Syiah Kuala


Komentar via Facebook