Erupsi Gunung Dukono Capai 10 Kilometer, Warga Diminta Gunakan Masker

Avatar photo

Mirza Putra

09 Mei 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Erupsi Gunung Dukono Capai 10 Kilometer, Warga Diminta Gunakan Masker

MALUKU, TIMES NEWS – Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), mengimbau masyarakat di sekitar Gunung Dukono, Pulau Halmahera, Maluku Utara, agar meningkatkan kewaspadaan terhadap sebaran abu vulkanik akibat erupsi yang terjadi pada Jumat (8/5) pagi.

Gunung Dukono yang saat ini berstatus Level II atau Waspada kembali mengalami erupsi pada pukul 07.41 WIB. Sebaran abu vulkanik dari letusan tersebut berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat, aktivitas harian, hingga kebersihan lingkungan.

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Badan Geologi, Lana Saria, mengatakan aktivitas erupsi Gunung Dukono mengalami peningkatan signifikan sejak 30 Maret 2026 setelah sebelumnya sempat menurun pada Agustus 2025.

“Erupsi terbaru terekam pada seismogram dengan amplitudo maksimum 34 mm dan durasi 967,56 detik. Erupsi tersebut juga disertai suara dentuman serta menghasilkan semburan abu vulkanik yang perlu diwaspadai masyarakat di sekitar wilayah terdampak,” ujar Lana.

Ia menjelaskan, kolom erupsi teramati berwarna putih, kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal dan mencapai ketinggian sekitar 10.000 meter di atas puncak gunung. Arah sebaran abu terpantau condong ke utara sehingga berpotensi menyebabkan hujan abu di sejumlah wilayah, termasuk Kota Tobelo.

Menurut PVMBG, sejak akhir Maret 2026 telah tercatat sebanyak 199 kali erupsi magmatik eksplosif dengan tinggi kolom erupsi berkisar antara 50 hingga 400 meter dari puncak gunung.

Masyarakat diimbau untuk selalu menggunakan masker atau penutup hidung dan mulut saat beraktivitas di luar rumah guna mengurangi dampak abu vulkanik terhadap kesehatan, terutama gangguan pada sistem pernapasan.

Selain itu, warga, wisatawan, maupun pendaki diminta tidak melakukan aktivitas dalam radius empat kilometer dari Kawah Malupang Warirang yang menjadi pusat aktivitas Gunung Dukono.

PVMBG juga mengingatkan potensi bahaya sekunder berupa aliran lahar saat musim hujan. Wilayah yang berpotensi terdampak antara lain Sungai Mamuya di sektor utara serta Sungai Mede dan Sungai Tauni di sektor timur laut yang berhulu di puncak Gunung Dukono.

Badan Geologi melalui PVMBG menyatakan akan terus memantau dan mengevaluasi aktivitas Gunung Dukono secara berkala. Informasi terbaru mengenai aktivitas gunung api tersebut dapat diakses melalui aplikasi MAGMA Indonesia maupun laman resmi Badan Geologi dan PVMBG.