THETIMESNEWS.ID | ACEH BESAR — Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Abulyatama (BEM FH Unaya) kembali menunjukkan komitmennya dalam membangun kesadaran sosial dan budaya masyarakat melalui kegiatan Aceh Film Festival yang digelar di Kabupaten Aceh Besar, tepatnya di Gampong Ateuk Angguk dan Gampong Cot Masam pada 23-24 Mei 2026.
Kegiatan tersebut menjadi ruang edukasi, pemberdayaan, sekaligus penguatan nilai-nilai sosial masyarakat melalui pemutaran film dokumenter karya anak daerah Aceh Besar yang dilanjutkan dengan diskusi terbuka bersama masyarakat setempat.
Dalam pelaksanaannya, BEM FH Unaya berkolaborasi bersama komunitas Aceh Documentary sebagai bentuk sinergi antara mahasiswa, komunitas kreatif, dan masyarakat dalam menjaga identitas budaya Aceh melalui media film dokumenter.
Antusiasme masyarakat terlihat tinggi sepanjang kegiatan berlangsung. Warga dari berbagai kalangan hadir dan mengikuti rangkaian acara dengan penuh semangat. Suasana hangat dan diskusi yang aktif menjadi bukti bahwa ruang edukasi berbasis budaya masih sangat dibutuhkan dan mendapat tempat di tengah masyarakat.
Panitia menyebutkan, film dokumenter bukan hanya menjadi media hiburan, tetapi juga sarana penyadaran sosial yang mampu membuka cara pandang masyarakat terhadap berbagai realitas di sekitarnya, termasuk persoalan lingkungan dan pelestarian budaya lokal.
Salah satu film yang paling menarik perhatian masyarakat adalah dokumenter tentang pohon rumbia. Tumbuhan yang selama ini menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Aceh itu dinilai mulai terancam keberadaannya akibat alih fungsi lahan.
Dalam film tersebut dijelaskan bahwa rumbia bukan sekadar pohon biasa, melainkan bagian dari identitas budaya masyarakat Aceh. Selain dimanfaatkan sebagai bahan pangan, rumbia juga digunakan sebagai atap rumah tradisional dan memiliki nilai historis bagi masyarakat pesisir maupun pedalaman Aceh.
Namun, saat ini banyak lahan rumbia yang mulai dialihfungsikan menjadi kawasan perumahan dan pembangunan lainnya tanpa mempertimbangkan dampak ekologis maupun nilai budaya yang terkandung di dalamnya.
“Kondisi ini tentu menjadi perhatian bersama. Jika terus dibiarkan, bukan hanya pohon rumbia yang hilang, tetapi juga sejarah, budaya, dan kearifan lokal masyarakat Aceh yang perlahan ikut terkikis,” ujar salah satu peserta diskusi.
Melalui Aceh Film Festival, BEM FH Unaya berharap masyarakat semakin peduli terhadap lingkungan, budaya, dan identitas daerah sendiri. Kegiatan ini juga menjadi ajakan bersama untuk menjaga alam sebagai bagian dari warisan kehidupan bagi generasi mendatang.
Aceh Film Festival diharapkan dapat terus menjadi ruang kolaborasi antara mahasiswa, komunitas kreatif, dan masyarakat dalam membangun kesadaran sosial melalui karya-karya dokumenter yang edukatif dan inspiratif.


Komentar via Facebook