Aksi September Hitam di Langsa, Serikat Pro Demokrasi Sampaikan Lima Tuntutan

Avatar photo

Redaksi

01 Oktober 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Aksi September Hitam di Langsa, Serikat Pro Demokrasi Sampaikan Lima Tuntutan

LANGSA - Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Serikat Pro Demokrasi Kota Langsa menggelar aksi damai bertajuk *Refleksi September Hitam* di Tugu Gampong Baroh, Kota Langsa, Rabu (30/9/2026) sore.

Aksi yang dimulai sekitar pukul 16.00 WIB tersebut diikuti sekitar 50 peserta. Massa secara bergantian menyampaikan orasi terkait penegakan hak asasi manusia (HAM), kebebasan sipil serta sejumlah persoalan yang dinilai perlu mendapat perhatian pemerintah dan aparat penegak hukum.

Dalam aksi tersebut, Serikat Pro Demokrasi Kota Langsa juga membacakan Petisi Aksi September Hitam yang memuat lima tuntutan.

Pertama, massa mendesak agar seluruh dugaan pelanggaran HAM yang terjadi pada masa lalu hingga saat ini diusut tuntas dan pihak yang bertanggung jawab diadili tanpa impunitas.

Kedua, massa meminta seluruh tahanan politik di Indonesia dibebaskan.

Ketiga, massa mendesak Menteri HAM Natalius Pigai bertanggung jawab atas penyelesaian persoalan HAM di Indonesia dan meminta yang bersangkutan mundur apabila tidak mampu menjalankan tanggung jawab tersebut.

Keempat, massa mendesak Polda Aceh mengusut secara tuntas dan adil meninggalnya Muhammad Rasya Fadillah di Poltekpel Malahayati.

Massa meminta proses pengusutan dilakukan secara objektif dan transparan serta tidak terjadi tumpang tindih dalam penanganannya.

Kelima, Serikat Pro Demokrasi Kota Langsa mendesak negara menjamin kebebasan berpendapat dan berekspresi tanpa intimidasi maupun kriminalisasi.

Koordinator Lapangan, Tegar, mengatakan aksi tersebut merupakan bentuk penyampaian sikap masyarakat sipil terhadap persoalan HAM dan demokrasi yang dinilai masih membutuhkan perhatian serius.

Menurutnya, penyelesaian persoalan HAM tidak cukup hanya melalui pernyataan, tetapi harus diwujudkan melalui proses hukum yang transparan dan memberikan kepastian bagi korban maupun keluarga korban.

“Kami ingin memastikan bahwa persoalan HAM tidak berhenti sebagai catatan sejarah. Negara harus hadir memberikan keadilan dan memastikan tidak ada pihak yang kebal terhadap hukum,” kata Tegar dalam orasinya.

Terkait meninggalnya Muhammad Rasya Fadillah, massa meminta aparat penegak hukum melakukan pengusutan secara menyeluruh untuk memastikan fakta dan rangkaian peristiwa yang terjadi.

“Kami mendesak agar kasus ini diusut secara tuntas, objektif dan transparan. Jika dalam proses hukum ditemukan adanya tindak pidana, pihak yang terbukti bertanggung jawab harus diproses sesuai hukum,” ujarnya.

Serikat Pro Demokrasi Kota Langsa menilai kebebasan berpendapat dan berekspresi merupakan bagian penting dalam kehidupan demokrasi. Karena itu, mereka meminta penyampaian kritik masyarakat tidak dibalas dengan intimidasi ataupun kriminalisasi.

Aksi berlangsung damai dan ditutup setelah massa menyampaikan seluruh tuntutan serta membacakan Petisi Aksi September Hitam.