Aceh Kembali Bangkit, BPMA Sebut Potensi Migas Capai 9 Miliar Barel Setara Minyak

Avatar photo

Mirza Putra

29 Mei 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Aceh Kembali Bangkit, BPMA Sebut Potensi Migas Capai 9 Miliar Barel Setara Minyak

THETIMESNEWS.ID | ACEH — Aceh kembali menjadi sorotan industri hulu migas nasional. Di tengah upaya Indonesia memperkuat ketahanan energi, Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) mengungkap potensi besar migas di Cekungan Sumatra Utara (North Sumatra Basin/NSB) yang dinilai masih sangat prospektif namun belum tergarap maksimal.

Dalam forum IPA Convex 2026, BPMA menyebut lebih dari 9 miliar barel setara minyak (BBOE) sumber daya migas masih berpotensi ditemukan di wilayah Aceh dan sekitarnya. Angka tersebut melengkapi sejarah panjang eksplorasi sejak tahun 1855 yang sebelumnya telah menghasilkan penemuan sekitar 8,6 BBOE hidrokarbon di tempat.

“Cekungan Sumatera Utara adalah salah satu cekungan paling produktif di Indonesia, tetapi ironisnya masih belum tereksplorasi di sejumlah wilayah,” demikian salah satu poin penting dalam paparan BPMA yang dibaca ruangenergi.com.

Potensi migas tersebut tersebar di tujuh sub-cekungan dengan dominasi karakter gas basah. Sejumlah lapangan legendaris menjadi bukti kejayaan Aceh di sektor energi nasional, seperti Lapangan Arun dengan cadangan gas sekitar 14–16 TCF dan Lapangan Rantau dengan estimasi 300 juta barel minyak.

Kini, BPMA berupaya menghidupkan kembali kejayaan tersebut melalui eksplorasi dan pengembangan wilayah baru.

Kawasan lepas pantai Aceh, khususnya Andaman dan Sibolga, disebut sebagai frontier baru yang belum banyak tersentuh eksplorasi. BPMA mengakui aktivitas eksplorasi laut di kawasan tersebut masih jauh lebih rendah dibandingkan cekungan produktif lainnya di Sumatra.

Namun geliat eksplorasi mulai terlihat. Sumur Rencong-1X di Wilayah Kerja Andaman III disebut membuka paradigma baru eksplorasi di Cekungan Sumatra Utara. Selain itu, uji produksi sumur Arun A-55A berhasil membuktikan keberadaan cadangan migas baru di Aceh.

Tak hanya pengeboran, BPMA juga mempercepat survei seismik di berbagai wilayah strategis. Survei 3D seluas 1.000 km² dilakukan di Offshore Northwest Aceh (ONWA) dan Offshore Southwest Aceh (OSWA), serta survei lanjutan di wilayah Bireuen-Sigli dan Blok B yang direncanakan berlangsung hingga tahun 2026.

Dalam paparannya, BPMA turut menawarkan sejumlah area prospektif baru kepada investor. Salah satunya Arakundo Joint Study Area (JSA), wilayah yang sebelumnya dikaji Pertamina dan Repsol.

Area ini disebut memiliki lapangan migas aktif, 20 struktur penutupan, dan 37 interval klastik prospektif, ditambah potensi pada retakan basement pra-Tersier. Dengan kedalaman laut relatif dangkal antara 0–100 meter, kawasan tersebut dinilai menarik secara teknis maupun ekonomi.

Selain Arakundo, BPMA juga menyoroti “Area 2”, bekas wilayah Zaratex NV milik Pexco Energy Group. Blok ini diyakini memiliki potensi multi-TCF dengan tipe reservoir karbonat yang disebut mirip Lapangan Arun serta didukung data seismik 3D seluas 3.750 km². Namun pengembangannya sempat tertunda karena operator sebelumnya gagal mendapatkan mitra untuk menyelesaikan Plan of Development (PoD).

BPMA juga menyiapkan strategi peningkatan produksi melalui optimalisasi fasilitas produksi. Langkah tersebut diproyeksikan mampu meningkatkan penjualan gas dari 20 MMSCFD menjadi 35 MMSCFD.

Secara keekonomian, proyek ini dinilai sangat menjanjikan. Nilai NPV diperkirakan melonjak dari US$9,3 juta menjadi US$104 juta, sementara penerimaan pemerintah meningkat dari US$16,9 juta menjadi US$335 juta.

Selain itu, BPMA merancang pengembangan 13 sumur baru dengan investasi sekitar US$195 juta serta 15 program workover dan well service senilai US$30 juta.

Langkah strategis tersebut diharapkan mampu menghidupkan kembali produksi migas Aceh yang dalam beberapa dekade terakhir mengalami penurunan pasca kejayaan Arun LNG.

Di tengah meningkatnya kebutuhan energi nasional dan transisi energi global, Aceh kini dinilai memiliki peluang besar untuk kembali menjadi salah satu pusat pertumbuhan migas Indonesia.

Dengan kombinasi cekungan tua yang belum sepenuhnya dieksplorasi, temuan baru di kawasan Andaman, serta dukungan investasi dan teknologi, Aceh bukan lagi sekadar cerita nostalgia kejayaan migas masa lalu, tetapi juga harapan baru energi nasional di masa depan.